Kamis, 20 Maret 2014

LAPORAN KIMIA : TITRASI ASAM DAN BASA




LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA

KELOMPOK 3

ADE EKO SAPUTRA L
AULIA AZIZAH
MEILITA FARAH DINA
NUR PERMATA SARI
RIZKI FARIZAN FIKRI






I.                   PENDAHULUAN

TEORI DASAR
Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatkan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya. (disini hanya dibahas tentang titrasi asam basa)
Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai “titrant” dan biasanya diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai “titer” dan biasanya diletakkan di dalam “buret”. Baik titer maupun titrant biasanya berupa larutan.

Prinsip Titrasi Asam basa
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya.
Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”.
Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant.
Cara Mengetahui Titik Ekuivalen
Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa.
1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titrant untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”.
2. Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.
Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis.
Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indikator yang perbahan warnanya dipengaruhi oleh pH. Penambahan indikator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga tetes.


Indikator
Perubahan warna
Pelarut
Asam
Basa
Thimol biru
Merah
Kuning
Air
Metil kuning
Merah
Kuning
Etanol 90%
Metil jingga
Merah
Kuning-jingga
Air
Metil merah
Merah
Kuning
Air
Bromtimol biru
Kuning
Biru
Air
Fenolftalein
Tak berwarna
Merah-ungu
Etanol 70%
thimolftalein
Tak berwarna
biru
Etanol 90%
Indikator yang sering digunakan dalam titrasi asam basa yaitu indikator fenolftalein.  Tabel berikut ini merupakan karakteristik dari indikator fenolftalein.



pH
< 0
0−8.2
8.2−12.0
>12.0
Kondisi
Sangat asam
Asam atau mendekati netral
Basa
Sangat basa
Warna
Jingga
Tidak berwarna
pink keunguan
Tidak berwarna
Gambar



                    
Sebelum mencapai titik ekuivalen              Setelah mencapai titik ekuivalen
Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik equivalent, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indikator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan.
Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indikator disebut sebagai “titik akhir titrasi”.
D. jenis-jenis titrasi asam basa
Titrasi asam basa terbagi menjadi 5 jenis yaitu :
1. Asam kuat - Basa kuat
2. Asam kuat - Basa lemah
3. Asam lemah - Basa kuat
4. Asam kuat - Garam dari asam lemah
5. Basa kuat - Garam dari basa lemah

1. Titrasi Asam Kuat - Basa Kuat
Contoh :
- Asam kuat : HCl
- Basa kuat : NaOH

Persamaan Reaksi :
HCl + NaOH → NaCl + H2O
Reaksi ionnya :
H+ + OH- → H2O
Kurva Titrasi Asam Kuat Basa Kuat

2.Titrasi Asam Kuat - Basa Lemah
Contoh :
- Asam kuat : HCl
- Basa lemah : NH4OH

Persamaan Reaksi :
HCl + NH4OH → NH4Cl + H2O
Reaksi ionnya :
H+ + NH4OH → H2O + NH4+

Kurva Titrasi Asam kuat – Basa Lemah

Titrasi Asam Lemah - Basa Kuat
Contoh :
- Asam lemah : CH3COOH
- Basa kuat : NaOH
Persamaan Reaksi :
CH3COOH + NaOH → NaCH3COO + H2O
Reaksi ionnya :
H+ + OH- → H2O

Kurva Titrasi Asam Lemah – Basa Kuat
Titrasi Asam Kuat - Garam dari Asam Lemah
Contoh :
- Asam kuat : HCl
- Garam dari asam lemah : NH4BO2

Persamaan Reaksi :
HCl + NH4BO2 → HBO2 + NH4Cl

Reaksi ionnya :
H+ + BO2- → HBO2

Titrasi Basa Kuat - Garam dari Basa Lemah
Contoh :
- Basa kuat : NaOH
- Garam dari basa lemah : CH3COONH4

Persamaan Reaksi :
NaOH + CH3COONH4 → CH3COONa + NH4OH
Reaksi ionnya :
OH- + NH4- → NH4OH
Rumus Umum Titrasi
Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama dengan mol-ekuivalent basa, maka hal ini dapat kita tulis sebagai berikut:
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa
Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas dengan volume maka rumus diatas dapat kita tulis sebagai:
NxV asam = NxV basa
Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH pada basa, sehingga rumus diatas menjadi:
nxMxV asam = nxVxM basa
keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n = jumlah ion H+ (pada asam) atau OH – (pada basa)



II.                TUJUAN PENELITIAN
1.      Mengetahui penetralan asam basa dengan metode titrasi
2.      Menentukan konsentrasi suatu larutan asam atau basa dengan menggunakan titrasi asam-basa
3.      Mengetahui titik ekuivalen dan titik akhir titrasi-basa













III.             ALAT DAN BAHAN
ALAT:
·         Gelas ukur
·         Labu erlenmeyer
·         Gelas kimia
·         Buret
·         Statif dan klem
·         Corong
·         Pipet tetes
·         Sikat pembersih

BAHAN:
·         Larutan HCl 0,1 M
·         Larutan CH3COOH 0,1 M
·         Larutan NaOH
·         Larutan PP



IV.             CARA KERJA:
1.      Menyiapkan buret statif dan klem
2.      Mengisi buret dengan larutan NaOH tepat sampai garis nol dengan bantuan corong
3.      Memasukkan 15 ml HCl 0,1 M kedalam labu erlenmeyer, lalu tambahkan 3 tetes indikator PP kedalam larutan
4.      Meletakkan labu erlenmeyer tepat dibawah buret, lalu buka kran buret secara perlahan sehingga NaOH dapat menetes kedalam larutan.
5.      Selama penambahan NaOH, goyangkan labu erlenmeyer agar NaOH dapat tercampur rata dan sampai terjadi perubahan warna yang paling awal.
6.      Mengamati perubahan warna yang terjadi pada larutan HCl.
7.      Mencatat jumlah NaOH yang digunakan yaitu selisih antara volume akhir dan volume awal NaOH.
8.      Menentukan konsentrasi NaOH yang dipergunakan dengan rumus V1.M1 = V2.M2
9.      Melakukan kegiatan 1-7 sekali lagi dan hitung rata-rata jumlah NaOH yang terpakai untuk mengetahui titik ekuivalen
10.  Mengulangi kegiatan 1-9 untuk larutan CH3COOH 0,1 M




V.                PEMBAHASAN

A.    TABEL HASIL PENGAMATAN
No.
Larutan
Percobaan ke-
Volum NaOH yang terpakai (mL)
Warna larutan
1
HCl + PP + NaOH
1
28 tetes = 1,4 ml
Ungu ke pink-pink an
2
HCl + PP + NaOH
2
33 tetes = 1,65 ml
Ungu muda
3
HCl + PP + NaOH
3
20 tetes= 1 ml
Ungu tua
4
HCl + PP + NaOH
4
28 tetes = 1,4 ml
Ungu muda
5
HCl + PP + NaOH
5
34 tetes = 1,7 ml
Pink
6
HCl + PP + NaOH
6
33 tetes = 1,65 ml
Pink
7
HCl + PP + NaOH
7
67 tetes =  3,35 ml
Pink ungu
8
HCl + PP + NaOH
8
27 tetes = 1,35 ml
Pink ungu






                Rata-rata : 1,513 ml








No.
Larutan
Percobaan ke-
Volume NaOH yang terpakai (mL)
Warna Larutan
1
CH3COOH + PP + NaOH
1
58 tetes = 2,9 ml
Pink
2
CH3COOH + PP + NaOH
2
59 tetes = 2,95 ml
Pink
3
CH3COOH + PP + NaOH
3
49 tetes = 2,45 ml
Ungu muda
4
CH3COOH + PP + NaOH
4
52 tetes = 2,6 ml
Pink
5
CH3COOH + PP + NaOH
5
41 tetes = 2,05 ml
Pink ungu
6
CH3COOH + PP + NaOH
6
55 tetes = 2,75 ml
Pink ungu
7
CH3COOH + PP + NaOH
7
34 tetes = 1,7 ml
Pink ungu
8
CH3COOH + PP + NaOH
8
33 tetes = 1,65 ml
Pink ungu
                                Rata-rata : 2,38 ml

B.     PEMBAHASAN
Titrasi adalah cara analisis tentang pengukuran jumlah larutan yang di butuhkan untuk bereaksi secara tetap dengan zat yang terdapat dengan larutan lain.
Pada percobaan ini kami menentukan molaritas NaOH dengan menggunakan proses titrasi antara larutan HCl sebanyak 15 ml 0,1 M dengan larutan NaOH. 15 ml larutan HCl dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer lalu ditambahkan 3 tetes indikator PP, lalu ditetesi dengan larutan NaOH yang sudah disediakan dalam buret setetes demi setetes sampai ekuivalen atau habis bereaksi. Begitu pula titrasi antara larutan CH3COOH sebanyak 15 ml 0,1 M dengan larutan NaOH. 15 ml larutan CH3COOH dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer lalu ditambahkan 3 tetes indikator PP, lalu ditetesi dengan larutan NaOH yang sudah disediakan dalam buret setetes demi setetes sampai ekuivalen atau habis bereaksi.
Titik ekuivalen dapat diketahui dengan bantuan larutan PP ,kisaran warna yaitu tidak berwarna sampai merah ungu, yakni apabila tak berwarna berarti sifatnya asam dan jika berwarna merah ungu berarti basa. Jika larutan sudah ekuivalen maka, larutan akan mengalami perubahan warna paling awal, dan warnanya sangat muda dan cerah saat itulah titrasi dihentikan. Saat larutan menunjukkan perubahan warna paling awal itulah yang disebut titik akhir titrasi.
Percobaan 1 menggunakan HCl
Titrasi asam kuat + basa kuat
Dalam percobaan titrasi yang kami lakukan pada larutan HCl sebanyak 15 ml dititrasi dengan NaOH menghasilkan persamaan reaksi sebagai berikut ;
HCl + NaOH à NaCl + H2O
Titrasi ke-1
Dalam percobaan pertama, langkah pertama yang dilakukan adalah  HCl 15 ml  0,1 M dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH  50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 1,4 ml dan warnanya ungu kepink-pinkan.
 
1,4 M = 1,5

Titrasi ke-2
HCl 15 ml  0,1 M dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH  50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 1,65 ml dan warnanya ungu muda.
15.0,1 = 1,65 M2
1,5 = 1,65 M2

Titrasi ke-3
HCl 15 ml  0,1 M dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH  50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 1 ml dan warnanya ungu tua.
15.0,1 = 1 M2
1,5 = 1 M2

Titrasi ke-4
HCl 15 ml  0,1 M dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH  50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 1,4 ml dan warnanya ungu kepink-pinkan.

15.0,1 = 1,4 M2
1,5 = 1,4 M2

Titrasi ke-5
HCl 15 ml  0,1 M dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH  50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 1,7 ml dan warnanya pink/merah muda.
15.0,1 = 1,7 M2
1,5 = 1,7 M2

Titrasi ke-6
HCl 15 ml  0,1 M dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH  50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 1,65 ml dan warnanya pink/merah muda.
15.0,1 = 1,65 M2
1,5 = 1,65 M2

Titrasi ke-7
HCl 15 ml  0,1 M dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH  50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 3,35 ml dan warnanya pink ungu.
15.0,1 = 3,35 M2
1,5 = 3,35 M2
Titrasi ke-8
HCl 15 ml  0,1 M dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH  50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 1,35 ml dan warnanya pink ungu.
15.0,1 = 1,35 M2
1,5 = 1,35 M2
Molaritas NaOH yaitu :
Jadi molaritas NaOH adalah 0,99 M






Percobaan 2  menggunakan CH3COOH
Titrasi asam lemah + basa kuat
Dalam percobaan titrasi yang kami lakukan pada larutan CH3COOH sebanyak 15 ml dititrasi dengan NaOH menghasilkan persamaan reaksi sebagai berikut ;
CH3COOH  + NaOH à NaCH3COO + H2O

Titrasi ke-1
CH3COOH  15 ml  0,1 M dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH  50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 2,9 ml dan warnanya pink.
 
2,9 M = 1,5
Titrasi ke-2
CH3COOH  15 ml  0,1 M dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH  50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 2,95 ml dan warnanya pink.
15.0,1 = 2,95 M2
1,5 = 2,95 M2

Titrasi ke-3
CH3COOH  15 ml  0,1 M dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH  50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 2,45 ml dan warnanya ungu muda.
15.0,1 = 2,45 M2
1,5 = 2,45 M2

Titrasi ke-4
CH3COOH  15 ml  0,1 M dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH  50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 2,6 ml dan warnanya pink.
15.0,1 = 2,6 M2
1,5 = 2,6 M2

Titrasi ke-5
CH3COOH  15 ml  0,1 M dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH  50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 2,05 ml dan warnanya pink ungu.
15.0,1 = 2,05 M2
1,5 = 2,05 M2

Titrasi ke-6
CH3COOH  15 ml  0,1 M dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH  50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 2,75 ml dan warnanya pink ungu.
15.0,1 = 2,75 M2
1,5 = 2,75 M2
Titrasi ke-7
CH3COOH  15 ml  0,1 M dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH  50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 1,7 ml dan warnanya pink ungu.
15.0,1 = 1,7M2
1,5 = 1,7 M2
Titrasi ke-8
CH3COOH  15 ml  0,1 M dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 3 tetes penoftalin. NaOH  50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 1,65 ml dan warnanya pink ungu.
15.0,1 = 1,65 M2
1,5 = 1,65 M2
Molaritas NaOH yaitu :
Jadi molaritas NaOH adalah 0,662 M
Dalam percobaan ini kami melakukan titrasi masing-masing delapan kali, titrasi asam kuat dengan basa kuat delapan kali dan titrasi asam lemah dengan basa kuat jaga sebanyak delapan kali. Pada kedelapan percobaan pada titrasi HCl dengan NaOH ada beberapa yang gagal dimana perubahan warna yang terjadi terlalu tua begitu pula pada titrasi CH3COOH dengan NaOH. Namun, ada beberapa juga yang berhasil.
Kegagalan ini disebabkan beberapa factor yaitu:
1.      Kurang telitinya mata saat memperhatikan perubahan warna yang terjadi,yang sebenarnya mungkin perubahan warna awal sudah terjadi namun karena tidak diperhatikan dengan seksama sehingga penetesan tetap dilanjutkan dan hasilnya warna yang didapat terlalu pekat dan mencolok
2.      Kurang telitinya saat melaksanakan proses titrasi
3.      Kurang tepatnya pembuatan larutan HCl 0,1 M dan CH3COOH pada proses penimbangan.
4.      Kurang tepatnya dalam penghitungan tetesan larutan NaOH yang memungkinkan kelebihan penetesan sehingga warna yang dihasilkan semakin pekat.
5.      Pada saat hampir mencapai titik ekuivalen aliran kran buret

BAB IV
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
1.      Titik ekuivalen adalah titik dimana konsentrasi asam sama dengan konsentrasi basa (habis bereaksi) atau titik dimana jumlah basa yang ditambahkan sama dengan jumlah asam yang dinetralkan yang disertai perubahan warna indikator.
2.      Titik akhir titrasi adalah keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indikator
3.      Indikator PP perlu ditambahkan kedalam larutan karena supaya mengetahui perubahan warna yang terjadi pada titik ekivalen
4.      Persamaan reaksi untuk masing-masing percobaan :
a.       Asam kuat + basa kuat
HCl + NaOH à NaCl + H2O
b.      Asam lemah + basa kuat
CH3COOH  + NaOH à NaCH3COO + H2O
B.     SARAN
1.       





DAFTAR PUSTAKA