Tampilkan postingan dengan label PRINCE CHARMING IS MY BROTHER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PRINCE CHARMING IS MY BROTHER. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Desember 2012

PRINCE CHARMING IS MY BROTHER : AT THE FIRST.... part 1


at Bandara Soetta
Aku duduk santai di bangku bandara ditemani sebuah koper besar. Aku menyeruput kopi hangat yang tadi sempat ku beli di sebuah kafe di bandara. Kopi hangat memang sangat cocok dinikmati di saat dingin seperti ini. Sekarang ini Jakarta sedang terjadi hujan lebat, sejak kedatanganku ke bandara.

 Kriiiing..kriiiing...kriiiing... tiba-tiba sebuah ponsel berdering keras beberapa kali disertai getaran, di balik saku celanaku. Aku pun merogoh saku dan mengambil ponselku, kulirik layar ponsel, yah seperti dugaanku ini panggilan yang sudah kesekian kalinya dari ayahku yang biasa kupanggil Papi. Entah sudah beberapa kali ia menelponku sejak kesampaianku di bandara sejak satu jam yang lalu, mungkin ia sangat senang karena kedatanganku ini, memang sudah lama aku meninggalkan Indonesia, kota kelahiranku Jakarta, kira-kira sudah kurang lebih empat tahun yang lalu, setelah lulus SMA aku memutuskan untuk kuliah dan tinggal di Australia tepatnya di kota Sydney. Selama tiga tahun itu aku sangat jarang berkunjung ke Indonesia, bahkan seingatku terakhir aku mengunjungi papi sekitar setahun yang lalu. Kini sudah saatnya aku pulang kembali ke tanah air. 

Tepat seminggu yang lalu ayahku itu telah menikah, namun aku tidak dapat hadir ke upacara pernikahannya karena ada beberapa hal yang perlu kuurus di Sydney terkait registrasi untuk kepulanganku ke Indonesia. Meski ia sedikit kecewa karena ketidakhadiranku di hari bahagianya, namun kini telah terobati dengan kepulanganku hari ini. Sejak pernikahannya dia lebih sering menelponku untuk menceritakan kelurga baru kami, bahwa istrinya yang kini menjadi ibuku sangat cantik dan betapa baik sikapnya, ia meyakinkanku bahwa wanita itu pantas menjadi ibuku, dan jika telah bertemu aku pasti akan menyukainya dan juga aku telah menjadi seorang kakak, meski karena wanita itu memiliki seorang putri yang katanya juga tak kalah cantik ang berumur sekitar tujuhbelas tahun.

“ halo “ ucap seorang laki-laki  di seberang sana yang terdengar begitu bergembira.

“ halo “ sahutku.

“ hei, kau dimana??? Kenapa belum pulang juga huh?? Aku sudah menunggumu anak nakal “ tanyanya.

“aku masih di bandara Pi, sekarang masih hujan. iya aku akan segera pulang ” aku tersenyum mendengar perkataannya, yah aku juga sudah menunggu saat ini papi, saat aku kembali bersamamu. Tak lama hujan mulai reda. Segera setelah menutup telepon dari ayahku, aku melangkah ke area parkir untuk mengambil motorku, motor kesayanganku. Dari dulu ayahku memang selalu tau keinginanku sebelum aku meminta ia pasti sudah memberikannya. Seperi motor ini, ia sengaja mengantarkannya ke bandara sehingga aku bisa pulang mengendarai motor kesayanganku ini untuk pulang ke rumah.  Dua orang suruhan ayahku datang menghampiriku

“ ini kunci motor anda tuan, dan tolong koper anda, biar kami yang mengantarkannya. Dan ini.... “ kata salah satu orang suruhan ayahku seraya menyerahkan helm dan jaket yang sama-sama berwarna hitam.

“ ok “ kataku sambil mengambil helm dan jaket itu dari tangannya kemudian memakainya. Dan aku pun segera mengendarai motor kesayanganku menuju rumahku

at rumah keluarga Sudiro

“ aku pulang “ kata Rena seraya memutar kenop pintu rumah kemudian melepas sepatunya dan meletakkannya ke rak sepatu yang berada di dekat pintu kemudian mengenakan sandal rumah. Rumah minimalis yang bisa dikatakan mewah dengan dua lantai. Rumah yang baru ditinggalinya beberapa hari yang lalu, sebenarnya dulunya ini adalah rumah Om Heri, sahabat mama dan papanya sejak SMA. Namun, kini rumah ini juga telah menjadi rumah Rena dan mamanya, karena Om Heri tlah resmi menyandang status suami mamanya yang otomatis adalah ayah tirinya. Bagi Rena, Om Heri bukanlah orang asing, ia telah mengenal Om Heri sejak ia masih kecil. Menurut Rena Om Heri adalah sosok lelaki yang baik, perhatian, jujur, dan sangat menyenangkan maka tidak salah ia kemudian merestui hubungan mamanya dengan Om Heri, hingga Om Heri kini menjadi keluarganya, bagian dari hidup Rena yang mengisi ruang kosong untuk sosok seorang ayah yang sangat ia rindukan.

“ ya.... sayang sudah pulang...” sambut mama dengan wajah sumringah,  kemudian memeluk dan mencium kening Rena dengan penuh sayang.

“ hehe.. “   Rena hanya menyengir mendapat perlakuan mamanya, yang suka memanjakannya, tapi bukan berarti Rena anak manja pada umumnya, malah ia adalah anak yang mandiri.

“ hemm... loh kok bju kamu basah gini? Tanya mama Rena sambil mengacungkan telunjuknya ke arah baju Rena.

“oh, ini? Tadi sempet hujan waktu nungguin bus, terus ada genangan air di depan Rena, terus motor lewat di depan Rena, yah Brusssssssh airnya nyembur deh, untung aja gak kenapa-kenapa. Huh nyebelin banget deh tuh orang, nggak bertanggung jawab banget awas aja klo ketemu lagi, gak ada ampun bagimu“ jelas Rena panjang lebar dengan penekanan kata di bagian terakhir.

“ sudah-sudah jangan gitu ah, gak baik nyimpen dendam, mending mandi dulu gih sana terus klo udah selesai, langsung ke dapur bantuin mama, mama mau masak buat makan malam “ kata mama Rena seraya mendorong Rena ke arah tangga menuju kamar.

“hmmmmn” sahut Rena
Rena pun melangkah menaiki beberapa anak tangga, kemudian berhenti sejenak.

“ papah mana? “ tanya Rena kepada mamanya dengan setengah berteriak seraya mencondongkan kepalanya dari tangga ke arah dapur.

“ eum, sepertinya sedang keluar sebentar katanya ada perlu “ sahut mama Rena dari dapur.

“ oooooo..... “ Rena hanya ber-oh ria mendengar jawaban dari mamanya.
Rena terus melangkah lalu masuk ke kamarnya. Suasana di dalam kamar Rena  senja itu terasa tenang dan sunyi.  Ia kemudian meletakkan tas sekolahnya ke atas meja belajar, dan membuka lemari pakaian yang ada di sampingnya untuk mengambil handuk dan pakaian ganti.

“ kreeek... “ suara pintu berderit pelan.

“ suara apa itu? “ tanya Rena dalam hati. Rena terdiam di depan lemari yang letaknya di hadapan kamar mandi yang sekarang ini ia punggungi.

Derap langkah terdengar sayup-sayup dari belakang, seseorang berjalan dengan tenang mendekati Rena. Rena hanya terdiam.

Tap.. tap.. tap... derap langkah itu semakin mendekat ke arah Rena, Rena panik, namun ia tidak tahu harus bagaimana. Tiba-tiba sepasang  tangan besar sukses mendarat di kedua bahunya, Rena dengan segera membalikkan tubuhnya hingga ia pun berhadapan dengan seorang lelaki.

Untuk sesaat Rena terpana diam membisu menangkap sosok rupawan yang tengah berdiri dihadapannya. Jantungnya kembali berdentum dengan hebatnya. Matanya membesar seperti siap keluar dari tempatnya.

“ dia..... di....aa...  “ ucap Rena terbata dalam hati.

Sosok yang tidak Rena tahu namanya itu melangkah semakin mendekati Rena, Rena berjalan mundur dalam diam, hingga ia menghimpit lemari, sosok lelaki itu tetap semakin mendekat ke arahnya.. Tangannya bergerak menapakkan ke pintu lemari di belakang Rena.

“ ma...ma...mau a..ap..a..pa kau... “ tanya Rena tergagap

Lelaki itu masih diam. Lelaki itu sedikit menunduk dan mencondongkan mukanya ke arah muka Rena.

“ punya sampo gak? “ suara berat keluar dari bibirnya yang tipis.

“ heh? “  tanya Rena heran. Untuk apa laki-laki ini menanyakan sampo kepadanya memangnya ia tukang jual sampo? Katanya dalam hati. Selama sesaat suasana menjadi hening tanpa suara, yang terdengar hanya suara jangkrik yang biasa berbunyi di waktu senja.

Rena dapat dengan jelas memandangi dan menyusuri seluruh wajahnya, bentuk wajahnya yang oval, hidung mancung, sepasang mata bulat dan tajam dihiasi bulu mata lentik dan panjang, alisnya yang tebal, dan kulit berwarna sawo matang, menambah kesan cool dan sexy. Rambutnya hitam legam terlihat basah *hah basah?? Pikir Rena dalam hati. Mata Rena kembali bergerak, terlihat dengan jelas tubuh yang polos ? dadanya yang bidang, perutnya yang six pack dan sedikit *basah??. Mata Rena semakin melebar kala terus menyusuri ke bawah.

“whaaat..... di...dia pake ha..handuk” kata rena dalam hati sambil berusaha menegak liurnya. Namun, tiba-tiba mata Rena menangkap sesuatu yang aneh dengan handuk yang lelaki itu kenakan. Entah apa yang terjadi handuk itu denga cepat jatuh terlepas dari tempat seharusnya.

“ aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.....................aa.... “ teriak Rena histeris seraya menutup matanya dan mendorong tubuh lelaki itu menjauh darinya.

Lelaki itu pun ikut panik, dan menyadari sesuatu ia pun segera menoleh ke arah tubuhnya. Untuk sepersekian detik ia pun terdiam.

“ aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... “ teriak lelaki itu tak kalah histeris.

Kamis, 22 November 2012

PRINCE CHARMING IS MY BROTHER : DAYDREAMING PART 2


Pukul 14.15
Teeeeng.......Teeeeeng......Teeeeeng...... bel panjang tanda pelajaran berakhir membahana di seluruh penjuru kelas, dengan sigap para siswa-siswi yang tadinya duduk lemas mendengar setelah Pak Badrun berkomat-kamit menjelaskan tentang orde baru zaman pemerintahan Presiden Soeharto langsung berdiri dan masing-masingnya bergegas untuk pulang.
Rena dan Nia berjalan berdampingan menuju gerbang sekolah, sambil mengobrol dan sesekali tertawa. Tak lama kemudian sebuah mobil hitam bersih serta kinclong berhenti tepat di depan gerbang. Seorang laki-laki paruh baya keluar dari mobil dan menghampiri Nia.
“ Non, silahkan.....” kata Mang Ujang sopir pribadi Nia, sembari membuka pintu mobil belakang.
 “ oh.. iya” sahut Nia berjalan menuju pintu mobil yang sedari tadi telah terbuka.
“ lo mau gue anter Ren??? Motor lo masih di bengkel kan?? ” tanya Nia ketika sampai tepat di depan pintu mobil, yang kemudian berbalik dan menatapku.
“nggak ah.. gue bisa pulang naik bus kok... tenang aja. Rumah lo sama rumah gue kan berlawan arah dan cukup jauh jaraknya. Kalo lo nganter gue bisa muter dan itu bakal boros bensin, lo tau kan sekarang bahan bakar mulai langka, maka dari itu kita harus hemat nona ” jawabku mantap. Yah Nia memang orang yang sangat baik, sangat banget baik malahan, aku bersyukur dan amat sangat bersyukur bisa bertemu dan menjadi sahabat seorang Nia Prayogo.
“oh...” sahut Nia
“eum.. yaudah deh, gue cabut duluan ya... bye dan lo hati-hati!” seru Nia seraya menutup pintu mobil yang kemudian segera melaju meninggalkan Rena.
 Rena pun tersenyum melihat kepergian sahabatnya.
“bye... lo juga hati-hati” teriak Rena.
Siapa sih yang nggak kenal sama Nia Prayogo. Hampir setiap koran dan stasiun televisi meberitakan tentang dirinya, calon pewaris S.WG Group, perusahaan properti terbesar di Indonesia dan keempat terbesar di Asia. Nia Prayogo merupakan anak tunggal dari Dimas Prayogo sang Presiden Direktur S.WG Group dan Leiza Prayogo mantan Miss Indonesia 1993 yang kini mengelola perusahaan kosmetik D’Rose yang kini sangat terkenal seantro Asia Tenggara . Ia cantik, putih dan anggun serta pintar *yah meski pun ia adalah orang kedua terpintar dariku setelah diriku tentunya #plakk-narsis-banget* yang ia warisi dari ibunya yang berdarah blasteran Belanda-Indonesia, sedangkan  tubuhnya yang tinggi semampai ia warisi dari ayahnya yang asli orang Yogyakarta. Nia adalah sosok sempurna bagi semua orang, semua lelaki akan silau dengan hanya melihat senyum manisnya. Daaaan meski aku bukan seorang lelaki aku juga tak bisa memungkiri ia memang benar-benar sempurna. Benar-benar beruntung.

Setelah berpamitan dengan Nia, aku segera berjalan keluar gerbang sekolah menuju halte bus.
Setelah berpamitan dengan Nia, aku segera berjalan keluar gerbang sekolah menuju halte bus.
“fiuuuuuhhh.....hari yang melelahkan” keluhku. Aku duduk manis di bangku halte yang berada tidak jauh dari sekolah kami , sambil menyandarkan tubuhku ke sandaran bangku, menuggu bus tiba.
Siang itu mentari terlihat cerah, namun perlahan langit mendung. Titik-titik kecil air hujan menerpa jalanan  yang lumayan lengang. Hanya beberapa mobil dan motor yang terlihat masih melaju. Rena masih setia duduk menunggu. Semakin lama titik hujan semakin besar dan lebat, langit pun semakin gelap.
“ waaah hujan ” kata Rena pelan.
Rena sangat menyukai hujan, menurutnya hujan adalah anugerah, setiap hujan turun ia merasa kesejukan merasuk ke sekujur tubuhnya menenangkan batinnya, mendinginkan emosinya. Entahlah Rena juga tak tau mengapa ia sangat menyukai hujan.  Setiap kali hujan ia pasti akan segera keluar rumah untuk menyentuh butiran halus itu yang perlahan jatuh merembes di antara jai-jari tangannya. Perlahan Rena berdiri dari bangku halte dan berjalan maju beberapa langkah sambil merentangkan kedua tangannya ke depan untuk mngumpulkan tetesan-tetesan air hujan di telapak tangannya, menengadahkan mukanya ke atas untuk memandang langit. Perlahan ia menutup kedua matanya, menghembuskan nafasnya dengan teratur. Sedikit demi sedikit bayangan memori itu kembali hadir dalam ingatannya. Ia teringat kembali akan mimpinya tadi, mimpi seorang lelaki asing yang tak sekalipun pernah ia temui tiba-tiba muncul di mimpinya, walau hanya bertemu di alam mimpi, tapi ia yakin sosok itu nyata, lelaki itu ada begitu mempesona di matanya.
“ hemmmh.....” desah Rena pelan
“ siapa sebenarnya laki-laki itu? Mengapa tiba-tiba ia hadir di mimpiku??? Mungkinkah....... hah bodoh mana mungkin... aaaah tidak....tidak....tidak... jangan berfikiran terlalu jauh Ren” kata Rena kepada dirinya sendiri sambil beberapa kali menggeleng-g.elngkan kepalanya sendiri.
Sepersekian detik kemudian hujan tiba-tiba berhenti, langit hitam kini berganti langit biru yang terang, cahaya matahari menembus celah-celah awan putih dan pohon dan dedaunan basah di pinggir jalan. Jalanan yang beraspal hitam itu kini menjadi basah kuyup, dan di beberapa tempat terdapat genangan air. Menyadari hujan tlah berhenti. Rena membuka matanya dan menundukkan kepalanya, tepat di depannya terdapat genangan air hujan yang bening yang cukup besar sehingga barang tentu ia dapat melihat pantulan dirinya di balik genangan.ia melihat pantulan wajahnya yang oval dengan kulit putih langsat, hidungnya yang mancung,  rambutnya yang lurus dan panjang sebahu tergerai dan sedikit basah di bagian ujungnya karena terkena air hujan . Ia sesekali menggerak-gerakkan kepalanya ke kiri ke kanan, lalu menggembungkan pipinya yang chubby, memelototkan matanya yang agak besar sehingga terlihat semakin besar.  Melihat itu ia tersenyum sendiri.
Sedang Rena masih asyik mematut wajahnya di balik air, dari arah berlawanan seseorang dengan pakaian kulit serba hitam dengan helm dengan warna senada mengendarai motor Yamaha Supersports berwarna biru malam melaju kencang melintas di depan Rena, menabrak genangan air, sehingga air naik bagai ombak lalu kemudian dengan sigap menghantam sekitarnya termasuk Rena. Air itu menghantam seluruh bagian depan tubuh Rena tiada tersisa. kini ia pun basah kuyup.
“ yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....... heiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii......” teriak Rena keras dan  lantang. sambil tangannya terangkat menunjuk pengendara itu.
Pengendara itu memperlambat motornya dan membuka kaca helmnya menoleh sebentar ke arah Rena, meskipun hanya sekilas Rena dapat melihat dengan jelas bahwa orang itu memiliki sepasang mata coklat yang tajam. sebelum kemudian ia kembali mempercepat laju motornya tanpa menghiraukan Rena yang masih menggong-gong layak anjing yang menyalak ketika ada seseorang yang tidak di kenal ingin memasuki rumah majikannya.
" hhheeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeei....... jangan pergi lo!" teriak Rena.
" kurang ajar... awas saja kalau nanti kita bertemu.... MATI KAU "
" dasar gak punya mata, huh....."
Rena tengah asyik dengan gerutuannya hingga bus datang. Rena menoleh ke arah bus dan melambaikan tangannya hingga bus itu berhenti. Rena pun masuk ke dalamnya membawa sisa-sisa emosi yang kini sudah mereda.
"hoaaaaaah.... kenapa hari ini  apes banget sih gue... ckckck" kata Rena sembari duduk dan menyanderkan tubuhnya di bangku bus paling belakang dan matanya memandang jalanan di balik kaca bus. tak beberapa lama bus kembali melaju membawa Rena menuju rumahnya tercinta.
                                                                  ***