Senin, 17 Desember 2012

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA : KOROSI



                                                                                                                                       




LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA
KOROSI

KELOMPOK 4
ADE EKO SAPUTRA L
DWI REZKY AMALIA
NOVA YULIDA ARIANI
NUR PERMATA SARI

DAFTAR ISI

BAB I           PENDAHULUAN
a.      LATAR BELAKANG MASALAH
b.      RUMUSAN MASALAH
c.       TUJUAN PENELITIAN
d.      MANFAAT PENELITIAN
BAB II         TINJAUAN PUSTAKA
BAB III        METODE PENELITIAN
a.      ALAT DAN BAHAN
b.      CARA KERJA
BAB IV        HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V         PENUTUP
a.      KESIMPULAN
b.      SARAN






BAB I
PENDAHULUAN
a.      LATAR BELAKANG MASALAH
Korosi dalam istilah sehari-hari kita kenal sebagai peristiwa perkaratan.Korosi ini sebenarnya Merupakan peristiwa oksidasi logam oleh gas oksigen yang ada di udara membentuk oksidanya. Proses korosi banyak menimbulkan masalah pada barang-barang yang terbuat dari besi walaupun logam-logam lain (kecuali logam mulia) dapat juga mengalami korosi.Jadi jelas korosi dikenal sangat merugikan.
Korosi merupakan sistem termodinamika logam dengan lingkungannya, yang berusaha untuk mencapai kesetimbangan. Sistem ini dikatakan setimbang bila logam telah membentuk oksida atau senyawa kimia lain yang lebih stabil. Pencegahan korosi merupakan salah satu masalah penting dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Besi adalah salah satu dari banyak jenis logam yang penggunaannya sangat luas dalam kehidupan sehari-hari.Namun kekurangan dari besi ini adalah sifatnya yang sangat mudah mengalami korosi. Padahal besi yang telah mengalami korosi akan kehilangan nilai jual da fungsi komersialnya. Ini tentu saja akan merugikan sekaligus membahayakan. Berdasarkan dari asumsi tersebut, percobaan ini difokuskan dalam upaya pencegahan terjadinya peristiwa korosi ini khususnya pada besi..
Proses perkaratan pada besi dapat berlanjut terus sampai seluruh bagian dari besi hancur. Hal ini disebabkan oksida-oksida besi yang terbentuk pada peristiwa awal korosi akan menjadi katalis (otokatalis) pada peristiwa korosi selanjutnya.

b.      RUMUSAN MASALAH
Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan maka beberapa masalah yang dapat penulis rumuskan dan akan dibahas dalam laporan  ini adalah :
1.      Apa faktor yang mempengaruhi terjadinya korosi/perkaratan pada besi?
2.      Bagaimana proses terjadinya perkaratan pada besi?

c.       TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian dan penulisanlaporan ini yaitu :
1.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya korosi (karat) besi.
2.      Untuk mengetahui paku yang lebih cepat dan banyak perkaratannya

1.      MANFAAT PENELITIAN
Dengan dilakukannya penelitian ini, maka diharapkan akan diperoleh manfaat sebagai berikut :
1.      Dapat mengetahui sifat dari berbagai bahan terhadap besi.
2.      Dapat menambah informasi mengenai korosi (karat).
3.      Dapat menambah pengetahuan tentang larutan elektrolit.
4.      Dapat melatih siswa agar terampil dalam melakukan kegiatan praktikum.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Korosi
Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak dikehendaki. Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan. Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan besi.
Sebagian orang mengartikan korosi sebagai karat, yakni sesuatu yang hampir dianggap sebagai musuh umum masyarakat. Karat (rust) adalah sebutan yang belakangan ini hanya dikhususkan bagi korosi pada besi, padahal korosi merupakan gejala destruktif yang mempengaruhi hampir semua logam.Walaupun besi bukan logam pertama yang dimanfaatkan oleh manusia, tidak perlu diingkari bahwa logam itu paling banyak digunakan, dan karena itu, paling awal menimbulkan masalah korosi serius. Karena itu tidak mengherankan bila istilah korosi dan karat hampir dianggap sinonim (Chamberlain, 1991).
Reaksi reduksi oksidasi merupakan reaksi yang disertai pertukaran elektron antara pereaksi, yang menyebabkan keadaan oksidasi berubah. Dari sejarahnya, istilah oksidasi diterapkan untuk proses-proses dimana oksigen diambil oleh suatu zat. Maka reduksi dianggap sebagai proses dimana oksigen diambil dari dalam suatu zat. Kemudian pengangkapan hidrogen juga disebut reduksi, sehingga kehilangan hidrogen harus disebut dengan oksidasi. Sekali lagi reaksi-reaksi lain dimana baiik oksigen maupun hidrogen yang tidak ambil bagian belum bisa dikelompokkan sebagai oksidasi atau reduksi sebelum definisi oksidasi dan reduksi yang paling umum, yang didasarkan pada pelepasan dan pengambilan elektron, disusun orang (Svehla, 1990).
Korosi dapat digambarkan sebagai sel galvanik yang mempunyai hubungan pendek dimana beberapa daerah permukaan logam bertindak sebagai katoda dan lainnya sebagai anoda, dan rangkaian listrik dilengkapi oleh aliran electron menuju besi itu sendiri. Sel elektrokimia terbentuk pada bagian logam dimana terdapat pengotor atau di daerah yang terkena tekanan (Oxtoby, dkk., 1999).
Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara) mengalami reduksi. Karat logam umumnya adalah berupa oksida atau karbonat. Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3.nH2O, suatu zat padat yang berwarna coklat-merah.
Korosi merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi.
Fe(s)<--> Fe2+(aq) + 2e
Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain dari besi itu yang bertindak sebagai katode, di mana oksigen tereduksi.
O2(g) + 4H+(aq) + 4e <--> 2H2O(l)
atau
O2(g) + 2H2O(l) + 4e <--> 4OH-(aq)
Ion besi(II) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi membentuk ion besi(III) yang kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi, yaitu karat besi. Mengenai bagian mana dari besi itu yang bertindak sebagai anode dan bagian mana yang bertindak sebagai katode, bergantung pada berbagai faktor, misalnya zat pengotor, atau perbedaan rapatan logam itu.
Besi yang murni adalah logam yang berwarna putih perak yang kukuh dan liat. Ia melebur pada suhu 1535oC. Jarang terdapat besi komersial yang murni, biasanya besi mengandung sejumlah kecil karbida, silsida, fosfida, dan sulfida dari besi, serta sedikit grafit. Zat-zat pencemar ini memainkan peranan penting dalam kekuatan struktur besi. Berbeda dengan tembaga, tembaga adalah logam merah muda, yang lunak, dapat ditempa, dan liat. Melebur pada 1038o+C. Karena potensial elektroda standarnya positif, ia tidak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun dengan adanya oksigen ia bisa larut sedikit (Svehla, 1990).
Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Ada definisi lain yang mengatakan bahwa korosi adalah kebalikan dari proses ekstraksi logam dari bijih mineralnya. Contohnya, bijih mineral logam besi di alam bebas ada dalam bentuk senyawabesi oksida atau besi sulfida, setelah diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan baja atau baja paduan. Selama pemakaian, baja tersebut akan bereaksi dengan lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali menjadi senyawa besi oksida).
Deret Volta dan hukum Nernst akan membantu untuk dapat mengetahui kemungkinan terjadinya korosi. Kecepatan korosi sangat tergantung pada banyak faktor, seperti ada atau tidaknya lapisan oksida, karena lapisan oksida dapat menghalangi beda potensial terhadap elektrode lainnya yang akan sangat berbeda bila masih bersih dari oksida.
    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Korosi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi suatu logam dapat terkorosi dan kecepatan laju korosi suatu logam. Suatu logam yang sama belum tentu mengalami kasus korosi yang sama pula pada lingkungan yang berbeda. Begitu juga dua logam pada kondisi lingkungan yang sama tetapi jenis materialnya berbeda, belum tentu mengalami korosi yanga sama. Dari hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi korosi suatu logam, yaitu faktor metalurgi dan faktor lingkungan.
1.        Faktor Metalurgi
      Faktor metalurgi adalah pada material itu sendiri. Apakah suatu logam dapat tahan terhadap korosi, berapa kecepatan korosi yang dapat terjadi pada suatu kondisi, jenis korosi apa yang paling mudah terjadi, dan lingkungan apa yang dapat menyebabkan terkorosi, ditentukan dari faktor metalurgi tersebut.
Yang termasuk dalam faktor metalurgi antara lain :
a.       Jenis logam dan paduannya
                Pada lingkungan tertentu, suatu logam dapat tahan tehadap korosi.Sebagai contoh, aluminium dapat membentuk lapisan pasif pada lingkungan tanah dan air biasa, sedangkan Fe, Zn, dan beberapa logam lainnya dapat dengan mudah terkorosi.
b.       Morfologi dan homogenitas
                Bila suatu paduan memiliki elemen paduan yang tidak homogen, maka paduan tersebut akan memiliki karakteristik ketahanan korosi yang berbeda-beda pada tiap daerahnya.
c.        Perlakuan panas
                Logam yang di-heat treatment akan mengalami perubahan struktur kristal atau perubahan fasa. Sebagai contoh perlakuan panas pada temperatur 500-800 0C terhadap baja tahan karat akan menyebabkan terbentuknya endapan krom karbida pada batas butir. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya korosi intergranular pada baja tersebut. Selain itu, beberapa proses heat treatment menghasilkan tegangan sisa. Bila tegangan sisa tesebut tidak dihilangkan, maka dapat memicu terjadinya korosi retak tegang.

d.      Sifat mampu fabrikasi dan pemesinan
                Merupakan suatu kemampuan material untuk menghasilkan sifat yang baik setelah proses fabrikasi dan pemesinan. Bila suatu logam setelah fabrikasi memiliki tegangan sisa atau endapan inklusi maka memudahkan terjadinya retak.

2.       Faktor Lingkungan
Faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi korosi antara lain:
a.       Komposisi kimia
Ion-ion tertentu yang terlarut di dalam lingkungan dapat mengakibakan jenis korosi yang berbeda-beda.Misalkan antara air laut dan air tanah memiliki sifat korosif yang berbeda dimana air laut mengandung ion klor yang sangat reaktif mengakibatkan korosi.Gambar berikut menunjukkan pengaruh komposisi elemen paduan terhadap ketahan korosi terhadap paduan tembaga.
b.      Konsentrasi
Konsentrasi dari elektrolit atau kandungan oksigen akan mempengaruhi kecepatan korosi yang terjadi. Pengaruh konsentrasi elektrolit terlihat pada laju korosi yang berbeda dari besi yang tercelup dalam H2SO4 encer atau pekat, dimana pada larutan encer, Fe akan mudah larut dibandingkan dalam H2SO4 pekat. Pengaruh konsentrasi terhadap laju korosi dapat dilihat pada gambar berikut.
        Suatu logam yang berada pada lingkungan dengan kandungan O2 yang berbeda akan terbagi menjadi dua bagian yaitu katodik dan anodik. Daerah anodik terbentuk pada media dengan konsentrasi O2 yang rendah dan katodik terbentuk pada media dengan konsentrasi O2 yang tinggi.
c.       Temperatur
Pada lingkungan temperatur tinggi, laju korosi yang terjadi lebih tinggi dibandingkan dengan temperatur rendah, karena pada temperatur tinggi kinetika reaksi kimia akan meningkat.
Gambar berikut menunjukkan pengaruh temperatur terhadap laju korosi pada Fe. Semakin tinggi temperatur, maka laju korosi akan semakin meningkat, namun menurunkan kelarutan oksigen. Sehingga pada suatu sistem terbuka, diatas suhu 800C, laju korosi akan mengalami penurunan karena oksigen akan keluar sedangkan pada suatu sistem tertutup, laju korosi akan terus menigkat karena adanya oksigen yang terlarut.

d.    Gas, cair atau padat
          Kandungan kimia di medium cair, gas atau padat berbeda-beda. Misalkan pada gas, bila lingkungan mengandung gas asam, maka korosi akan mudah terjadi (contohnya pada pabrik pupuk). Kecepatan dan penanganan korosi ketiga medium tersebut juga dapat berbeda-beda.Untuk korosi di udara, proteksi katodik tidak dapat dilakukan, sedangkan pada medium cair dan padat memungkinkan untuk dilakukan proteksi katodik.
e.       Kondisi biologis
        Mikroorganisme seperti bakteri dan jamur dapat menyebabkan terjadinya korosi mikrobial terutama sekali pada material yang terletak di tanah.Keberadaan mikroorganisme sangat mempengaruhi konsentrasi oksigen yang mempengaruhi kecepatan korosi pada suatu material.




2.            Teori Ion Svante August Arrhenius 
Mengapa larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik, sedangkan larutan nonelektrolit tidak dapat menghantarkan arus listrik?Penjelasan tentang permasalahan di atas pertama kali dikemukakan oleh Svante August Arrhenius (1859 – 1927) dari Swedia saat presentasi disertasi PhD-nya di Universitas Uppsala tahun 1884. 
Menurut Arrhenius, zat elektrolit dalam larutannya akan terurai menjadi partikel-partikel yang berupa atom atau gugus atom yang bermuatan listrik yang dinamakan ion. Ion yang bermuatan positif disebut kation, dan ion yang bermuatan negatif dinamakan anion.  
Peristiwa terurainya suatu elektrolit menjadi ion-ionnya disebut proses ionisasi. Ion-ion zat elektrolit tersebut selalu bergerak bebas dan ion-ion inilah yang sebenarnya menghantarkan arus listrik melalui larutannya.Sedangkan zat nonelektrolit ketika dilarutkan dalam air tidak terurai menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul yang tidak bermuatan listrik. 
Hal inilah yang menyebabkan larutan nonelektrolit tidak dapat menghantarkan listrik. Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan:  
1. Larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik karena zat elektrolit dalam larutannya terurai menjadi ion-ion bermuatan listrik dan ion-ion tersebut selalu bergerak bebas.  
2. Larutan nonelektrolit tidak dapat menghantarkan arus listrik karena zat nonelektrolit dalam larutannya tidak terurai menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul yang tidak bermuatan listrik. Zat elektrolit adalah zat yang dalam bentuk larutannya dapat menghantarkan arus listrik karena telah terionisasi menjadi ion-ion bermuatan listrik.Zat nonelektrolit adalah zat yang dalam bentuk larutannya tidak dapat menghantarkan arus listrik karena tidak terionisasi menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul.  






BAB III
METODE PENELITIAN
a.      ALAT DAN BAHAN
-          Gelas plastic bening sebanyak 8 buah
-          Paku besi yang tidak berkarat sebanyak 8 buah
-          Plastic bening
-          Karet gelang
-          Larutan cuka
-          air

b.      CARA KERJA
1.      susunlah rangkaian percobaan dengan 8 buah gelas plastic seperti gambar berikut :
 2.      Amati keadaan paku setiap hari selama 2 minggu
3.      Catatlah setiap perubahan yang terjadi




BAB IV       
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    HASIL
PENGKONDISIAN OBJEK :
Label gelas
Pengkondisian
A
Paku diletakkan di dalam gelas terbuka (tanpa air)
B
Paku diletakkan di dalam gelas terbuka berisi air dan paku dibiarkan tenggelam sepenuhnya.
C
Paku diletakkan di dalam gelas terbuka berisi air, tetapi posisi paku diatur sedemikian rupa sehingga paku hanya terendam sebagian.
D
Paku diletakkan dalam gelas terbuka berisi larutan cuka (CH3COO), dan paku dibiarkan dalam keadaan tenggelam
E
Paku diletakkan dalam gelas kosong yang tertutup
F
Paku diletakkan dalam gelas tertutup berisi air dan paku dibiarkan tenggelam.
G
Paku diletakkan dalam gelas tertutup berisi air, akan tetapi posisi paku diatur sedemikian rupa sehingga paku hanya terendam sebagian.
H
Paku diletakkan dalam gelas tertutup berisi larutan cuka (CH3COO).




HARI KE-1

KEADAAN OBJEK YANG DIAMATI
G. A
Tidak terjadi perkaratan pada paku. Tidak terjadi perubahan apapun.
G. B
Terjadi sedikit perkaratan. Sebagian karat menempel pada paku dan sebagian lagi larut dalam air. Warna air mulai berubah menjadi kuning kecoklatan.
G. C
Mulai terjadi perkaratan pada bagian yang terendam air, sedangkan bagian yang tidak terendam masih dalam kondisi awalnya. Air mulai berubah menjadi kekuningan
G. D
Tidak terjadi perkaratan. Air cuka masih dalam keadaan bening.
G. E
Tidak terjadi perkaratan. Paku masih dalam kondisi awalnya.
G. F
Mulai terjadi perkaratan. Sebagian karat menempel pada paku, dan sebagian lagi larut dalam air. Air mulai berubah menjadi kuning kecoklatan, tetapi warna air lebih muda jika dibandingkan dengan gelas B
G. G
Terjadi sedikit perkaratan pada bagian yang terendam. Air berubah menjadi bening, tetapi warna air tersebut lebih muda jika dibandingkan gelang gelas C.
G. H
Tidak terjadi perkaratan. Paku terlihat sangat bersih dan seperti baru. Paku terlihat lebih bersih daripada paku pada paku pada gelas D.






HARI KE-2

KEADAAN OBJEK YANG DIAMATI
G. A
Mulai terjadi sedikit perkaratan pada paku.
G. B
Karat semakin banyak. Warna air semakin menua (mendekati coklat muda)
G. C
Karat pada bagian yang terendam semakin banyak, tetapi bagian yang terendam belum mengalami perkaratan.
G. D
Paku terlihat makin bersih dibanding hari sebelumnya.
G. E
Mulai terjadi sedikit perkaratan
G. F
Karat semakin banyak, tetapi karat tersebut lebih banyak yang larut dalam air dibanding dengan yang menempel di paku. Warna airnya  sudah mencapai coklat bahkan lebih coklat jika dibandingkan dengan warna air pada gelas B.
G. G
Hanya bagian yang terendam yang mengalami perkaratan dan jumlah karat mulai bertambah dibanding hari sebelumnya. Bagian yang tidak terendam belum mengalami perkaratan.
G. H
Paku terlihat semakin bersih disbanding hari sebelumnya.





HARI KE-3

KEADAAN OBJEK YANG DIAMATI
G. A
Bercak-bercak karat mulai terlihat semakin jelas pada paku.
G. B
Warna air semakin coklat. Karat pada paku semakin banyak. Terlihat sedikit endapan karat pada dasar gelas.
G. C
Pada bagian yang terendam karat semakin banyak dan warna air terlihat semakin tua karena karat yang larut dalam air semakin banyak. Pada bagian yang tidak terendam mulai tampak sedikit bercak-bercak karat.
G. D
Paku terlihat semakin bersih dan warnanya terlihat sedikit mengalami penuaan (menjadi abu-abu kehitaman).
G. E
Bercak-bercak karat mulai tampak jelas pada paku.
G. F
Karat semakin bertambah banyak. Karat yang larut di dalam air juga semakin banyak. Warna air semakin tua dan terlihat sedikit endapan karat pada dasar gelas.
G. G
Bagian yang tidak terendam sudah mulai mengalami sedikit perkaratan. Pada bagian yang terendam, karat semakin banyak sehingga menyebabkan air semakin berwarna coklat.
G. H
Paku terlihat semakin bersih dan menghitam.



HARI KE-4

KEADAAN OBJEK YANG DIAMATI
G. A
Karat mulai menyebar hampir keseluruh bagian paku, tetapi masih berupa bercak-bercak.
G. B
Karat semakin banyak. Warna air semakin coklat. Endapan karat di dasar gelas mulai bertambah.
G. C
Karat yang menempel pada paku yang terendam maupun karat yang larut dalam air semakin bertambah banyak. Warna air semakin mencoklat. Pada bagian yang tidak terendam pertambahan karat juga terjadi.
G. D
Paku terlihat semakin hitam dan bersih. Tak ada ditemukan karat.
G. E
Karat bertambah banyak dan menyebar keseluruh bagian paku. Namun tidak terlalu jelas terlihat karena masih berupa bercak-bercak.
G. F
Air semakin coklat dan terlihat mulai memekat. Endapan pada dasar gelas juga semakin banyak.
G. G
Pada bagian yang tidak terendam karat mulai semakin tampak. Pada bagian yang terendam karat semakin banyak dan karat yang larut dalam air pun juga semakin banyak, mulai terlihat sedikit endapan karat pada dasar gelas.
G. H
Paku semakin menghitam. Tidak ditemukan adanya karat.



HARI KE-5

KEADAAN OBJEK YANG DIAMATI
G. A
Karat terlihat semakin jelas dan semakin banyak
G. B
Karat semakin banyak. Warna air semakin coklat dan air mulai terlihat memekat. endapan pada dasar gelas semakin banyak.
G. C
Karat pada bagian yang terendam maupun yang tidak terendam semakin bertambah banyak. Air mulai sedikit memekat. Warna air semakin coklat. Endapan pada dasar gelas sudah terlihat.
G. D
Paku semakin menghitam. Tidak ditemukan adanya karat. Air cuka tetap bening.
G. E
Karat mulai bertambah dan terlihat semakin jelas.
G. F
Karat semakin bertambah banyak. Warna air semakin coklat. Air mulai terlihat memekat. Endapan pada dasar gelas semakin bertambah.
G. G
Pertambaha karat terjadi pada bagian yang terendam maupun yang tidak terendam. Air semakin coklat dan endapan pada dasar gelas mulai semakin tampak. Air mulai sedikit memekat.
G. H
Paku terlihat makin hitam. Tak ada karat.




HARI KE-6

KEADAAN OBJEK YANG DIAMATI
G. A
Karat semakin banyak
G. B
Karat semakin bertambah banyak. Warna air semakin coklat dan air mulai terlihat semakin memekat. Andapan pada dasar gelas juga semakin banyak.
G. C
Karat pada bagian yang terendam maupun yang tidak terendam semakin bertambah banyak. Air mulai semakin memekat. Warna air semakin coklat dan terlihat kotor. Endapan pada dasar gelas mulai bertambah.
G. D
Paku semakin menghitam dan bertambah bersih
G. E
Karat semakin jelas dan bertambah pada seluruh bagian paku
G. F
Karat semakin bertambah banyak. Warna air semakin coklat dan terlihat kotor. Air mulai memekat. Endapan pada dasar gelas semakin bertambah.
G. G
Perkaratan semakin bertambah pada bagian yang terendam maupun yang tidak terendam. Air semakin coklat. Endapan juga terlihat semakin banyak. Air memekat.
G. H
Paku terlihat semain bersih dan semakin hitam.





HARI KE-7

KEADAAN OBJEK YANG DIAMATI
G. A
Karat terlihat semakin banyak pada seluruh permukaan paku, tetapi karat yang terbentuk ini masih berupa lapisan tipis.
G. B
Karat semakin bertambah banyak dan warna air semakin coklat serta air mulai terlihat semakin memekat. Andapan pada dasar gelas juga semakin banyak. Selain itu, paku mulai terlihat keropos.
G. C
Karat pada bagian yang terendam maupun yang tidak terendam semakin bertambah banyak. Air semakin memekat. Warna air semakin coklat dan tampak kotor. Endapan pada dasar gelas semakin bertambah.
G. D
Paku terlihat semakin bersih dan warnanya juga menjadi semakin hitam
G. E
Paku semakin terlihat jelas dan juga bertambah banyak
G. F
Karat semakin bertambah banyak. Warna air semakin coklat dan terlihat kotor. Air mulai memekat. Endapan pada dasar gelas semakin bertambah. Paku terlihat mulai keropos.
G. G
Perkaratan semakin bertambah pada bagian yang terendam maupun yang tidak terendam. Air semakin coklat dan nampak kotor. Endapan juga terlihat semakin banyak. Air semakin pekat.
G. H
Paku mengitam dan tak ditemukan karat.



HARI KE-8

KEADAAN OBJEK YANG DIAMATI
G. A
Karat terlihat semakin banyak dan membentuk lapisan yang cukup tebal pada beberapa bagian paku
G. B
Karat semakin bertambah banyak. Warna air semakin coklat dan air semakin pekat. Endapan karat pada dasar gelas juga bertambah tebal. Paku terlihat semakin keropos.
G. C
Karat pada bagian yang terendam maupun yang tidak terendam semakin bertambah banyak dari hari sebelumnya. Air terlihat semakin pekat. Warna air semakin coklat dan tampak kotor. Endapan pada dasar gelas semakin bertambah banyak dan tebal. Paku semakin keropos.
G. D
Warna paku terlihat semakin hitam dari hari sebelumnya. Tak ada karat.
G. E
Karat pada paku semakin banyak dan membentuk lapisan yang agak tebal pada beberapa bagian paku
G. F
Karat semakin bertambah banyak pada bagian yang terendam maupun yang tidak terendam. Warna air semakin coklat dan kotor. Endapan  karat semakin banyak. Paku terlihat semakin keropos.
G. G
Perkaratan terjadi pada seluruh bagian paku, baik yang teendam maupun yang tidak terendam. Air semakin coklat, pekat dan tampak kotor. Endapan semakin banyak. Paku keropos.
G. H
Warna paku semakin hitam dan tak ada karat.
HARI KE-9

KEADAAN OBJEK YANG DIAMATI
G. A
Karat semakin bertambah banyak dan membentuk lebih banyak lapisan yang cukup tebal pada sebagian permukaan paku
G. B
Karat terus bertambah banyak. Warna air semakin coklat, pekat dan tampak kotor. Volume air mulai jelas berkurang karena mengalami penguapan. Endapan karat di dasar gelas terlihat semakin banyak. Paku terlihat semakin keropos.
G. C
Perkaratan terus terjadi pada bagian yang terendam maupun yang tidak terendam. Air semakin berwarna coklat, pekat, dan kotor. Volume air juga mulai jelas terlihat berkurang karena terjadi penguapan. Endapan di dasar gelas juga semakin bertambah banyak. Paku nampak sangat keropos.
G. D
Paku semakin menghitam. Tak ada karat, tetapi air cuka mulai tampak sedikit kekuningan.
G. E
Karat semakin bertambah banyak pada hampir seluruh permukaan paku, dan pada beberapa bagian membentuk lapisan yang cukup tebal.
G. F
Karat semakin bertambah banyak. Warna air semakin mencoklat. Volume air jelas terlihat berkurang. Paku semakin keropos. Endapan pada dasar gelas semakin banyak, air semakin pekat dan terlihat semakin kotor.
G. G
Perkaratan terus terjadi dan karat terus bertambah banyak. Paku terlihat semakin keropos terutama bagian yang terendam. Warna air semakin coklat, air juga semakin pekat dan kotor.  Endapa pada dasar gelas juga semakin bertambah
G. H
Paku semakin hitam. Tidak ada karat. Air cuka berwarna kekuningan.



HARI KE-10

KEADAAN OBJEK YANG DIAMATI
G. A
Karat semakin banyak dan menutupi hampir seluruh permukaan paku, membentuk lapisan tipis maupun lapisan yang agak tebal.
G. B
Karat terus bertambah banyak. Warna air semakin coklat, pekat dan tampak kotor. Volume air semakin jelas berkurang. Endapan karat di dasar gelas terlihat semakin banyak. Paku terlihat semakin keropos.
G. C
Perkaratan terus terjadi pada bagian yang terendam maupun yang tidak terendam. Air semakin berwarna coklat, pekat, dan kotor. Volume semakin jelas terlihat berkurang karena penguapan. Endapan di dasar gelas juga semakin bertambah banyak. Paku nampak sangat keropos.
G. D
Paku semakin hitam, tetapi warna cuka menjadi lebih kuning dibanding hari sebelumnya.
G. E
Karat semakin banyak pada hampir seluruh permukaan paku.
G. F
Karat semakin bertambah banyak. Warna air semakin mencoklat. Volume air jelas terlihat berkurang. Paku semakin keropos. Endapan pada dasar gelas semakin banyak, air semakin pekat dan terlihat semakin kotor.
G. G
Perkaratan terus terjadi dan karat terus bertambah banyak. Paku terlihat semakin keropos terutama bagian yang terendam. Warna air semakin coklat, air juga semakin pekat dan kotor.  Endapan pada dasar gelas juga semakin bertambah dan membentuk lapisan tebal.
G. H
Paku semakin menghitam, dan air cuka bertambah kuning.
HARI KE-11

KEADAAN OBJEK YANG DIAMATI
G. A
Karat semakin banyak dan menutupi hampir seluruh permukaan paku, membentuk lapisan tipis maupun lapisan yang cukup tebal pada beberapa bagian.
G. B
Karat terus bertambah banyak. Warna air semakin coklat, pekat dan tampak kotor. Volume air semakin berkurang dan volumenya hanya setengah dari volume awal. Endapan karat di dasar gelas terlihat semakin banyak. Paku terlihat semakin keropos.
G. C
Perkaratan terus terjadi pada bagian yang terendam maupun yang tidak terendam. Air semakin berwarna coklat, pekat, dan kotor. Volume air terus berkurang dan hanya tinggal setengah volume awal. Endapan di dasar gelas juga semakin bertambah banyak. Paku nampak sangat keropos.
G. D
Paku terlihat semakin hitam dan air cuka terlihat semakin kuning. Volume air cuka tinggal ¼ volume.
G. E
Karat semakin banyak bahkan hampir menutupi seluruh permukaan paku
G. F
Karat semakin bertambah banyak. Warna air semakin mencoklat. Volume air jelas terlihat berkurang. Paku semakin keropos. Endapan seperti tanah pada dasar gelas semakin banyak, air semakin pekat dan terlihat semakin kotor .
G. G
Perkaratan terus terjadi dan karat terus bertambah banyak. Paku terlihat semakin keropos terutama bagian yang terendam. Warna air semakin coklat, air juga semakin pekat dan kotor.  Endapan pada dasar gelas juga semakin bertambah dan membentuk lapisan tebal.
G. H
Paku semakin menghitam dan air cuka berwarna semakin kuning. Volume air sangat berkurang hinggi tersisa ¼ dari volume awal.



HARI KE-12

KEADAAN OBJEK YANG DIAMATI
G. A
Karat semakin bertambah, hampir meliputi seluruh permukaan paku dan lapisan tipisnya juga sudah mulai mengalami penebalan.
G. B
Karat semakin bertambah banyak. Warna air semakin coklat menyerupai tanah, air terlihat sangat pekat, dan terlihat sangat kotor. Endapan menyerupai tanah pun juga semakin banyak pada dasar gelas. Paku terlihat semakin keropos bahkan paku sangat jelas terlihat mengecil disbanding ukuran awalnya. Volume air terus mengalami pengurangan.
G. C
Perkaratan terus terjadi pada bagian yang terendam maupun yang tidak terendam. Air semakin berwarna coklat seperti tanah, sangat pekat, dan kotor. Volume air terus berkurang dan hanya tinggal setengah volume awal. Endapan di dasar gelas juga semakin bertambah banyak. Paku nampak sangat keropos dan mengecil.
G. D
Paku terlihat semakin hitam dan warna air cuka terlihat semakin kuning. Volume air cuka terus mengalami pengurangan sehingga ada sebagian paku yang tidak tenggelam lagi, bagian yang tidak tenggelam ini langsung mengalami perkaratan dengan sangat cepat.
G. E
Karat menutupi seluruh permukaan paku, tetapi kebanyakan masih berupa lapisan tipis, hanya pada permukaan tertentu saja karat menebal.
G. F
Karat terus mengalami pertambahan sementara volume air da volume paku terus mengalami pengurangan. Air semakin pekat dan menyerupai air tanah dan sangat kotor. Endapan pada dasa juga semakin banyak.
G. G
Perkaratan juga terus mengalami penambahan. Air semakin pekat, bertambah coklat menyerupai air tanah dan terbentuk endapan seperti tanah pada dasar gelas. Volume paku mengalami pengurangan sehingga paku terlihat lebih kecil terutama pada bagian yang terendam.
G. H
Paku semakin hitam, dan air terus bertambah kuning. Volume air mengalami pengurangan karena menguap mngakibatkan sebagian batang paku tdak terendam lagi, tak lama setelah itu, bagian yang muncul ke permukaan tersebut langsung mengalami perkaratan dengan sangat cepat.
HARI KE-13

KEADAAN OBJEK YANG DIAMATI
G. A
Karat semakin bertambah, lapisan tipisnya juga sudah mengalami penebalan dan merata hampir ke seluruh permukaan paku.
G. B
Karat semakin bertambah banyak. Warna air semakin coklat menyerupai tanah, air terlihat sangat pekat, dan terlihat sangat kotor. Endapan menyerupai tanah pun juga semakin banyak pada dasar gelas. Paku terlihat semakin keropos bahkan paku sangat jelas terlihat mengecil disbanding ukuran awalnya. Volume air terus mengalami pengurangan.
G. C
Perkaratan terus terjadi pada bagian yang terendam maupun yang tidak terendam. Air semakin berwarna coklat seperti tanah, sangat pekat, dan kotor. Volume air terus berkurang dan hanya tinggal setengah volume awal. Endapan di dasar gelas juga semakin bertambah banyak. Paku nampak sangat keropos dan mengecil.
G. D
Bagian paku yang muncul ke permukaan mengalami perkaratan yang sangat cepat. Karat yang muncul berlapis lapis dan sangat tebal. Karat tersebut mulai menjalar ke bagian yang masih terendam dalam larutan cuka dan menyebabkan warna larutan tersebut hampir serupa dengan tanah.
G. E
Karat menutupi seluruh permukaan paku, tetapi kebanyakan masih berupa lapisan tipis, hanya pada permukaan tertentu saja karat menebal.
G. F
Karat terus mengalami pertambahan sementara volume air da volume paku terus mengalami pengurangan. Air semakin pekat dan menyerupai air tanah dan sangat kotor. Endapan pada dasa juga semakin banyak.
G. G
Perkaratan juga terus mengalami penambahan. Air semakin pekat, bertambah coklat menyerupai air tanah dan terbentuk endapan seperti tanah pada dasar gelas. Volume paku mengalami pengurangan sehingga paku terlihat lebih kecil terutama pada bagian yang terendam.
G. H
Bagian yang muncul kepermukaan pada gelas ini juga mengalami hal yang serupa dengan apa yang terjadi pada gelas D. Karat yang muncul secara cepat dan tiba-tiba ini justru merupakan karat yang paling tebal dan membuat paku paling cepat keropos. Karat mulai menjalar keseluruh bagian paku termasuk ke bagian yang masih terendam. Akibatnya larutan cuka itu pun juga berubah menjadi larutan yang berwarna seperti tanah.

HARI KE-14

KEADAAN OBJEK YANG DIAMATI
G. A
Karat semakin bertambah, lapisan tipisnya juga sudah mengalami penebalan dan merata hampir ke seluruh permukaan paku. Warna paku keseluruha berubah menjadi coklat oranye.
G. B
Karat semakin bertambah banyak dan membentuk gumpalan-gumpalan padat. Warna air semakin coklat menyerupai tanah, air terlihat sangat pekat, dan terlihat sangat kotor. Endapan menyerupai tanah pun juga semakin banyak pada dasar gelas. Paku terlihat semakin keropos bahkan paku sangat jelas terlihat mengecil dibanding ukuran awalnya. Volume air terus mengalami pengurangan, bahka terlihat mulai mengering.
G. C
Perkaratan terus terjadi pada bagian yang terendam maupun yang tidak terendam. Air semakin berwarna coklat seperti tanah, sangat pekat, dan sangat kotor. Volume air terus berkurang dan hampir mengering. Endapan di dasar gelas juga semakin bertambah banyak. Paku nampak sangat keropos dan mengecil.
G. D
Karat yang sangat tebal terbetuk pada seluruh permukaan paku. Karat ini berlapis lapis sehingga membuat baku terlihat besar tetapi sangat keropos. Air cuka berubah menjadi laruta karat yang lebih mendekati larutan tanah. Karatnya jauh lebih kotor dibandingkan karat pada gelas biasa berisi air.
G. E
Karat menutupi seluruh permukaan paku, tetapi kebanyakan masih berupa lapisan tipis, hanya pada permukaan tertentu saja karat menebal.
G. F
Karat terus mengalami pertambahan sementara volume air da volume paku terus mengalami pengurangan. Air semakin pekat dan menyerupai air tanah dan sangat kotor. Endapan pada dasar gelas juga semakin banyak dan memadat.
G. G
Perkaratan juga terus mengalami penambahan. Air semakin pekat, bertambah coklat menyerupai air tanah dan terbentuk endapan seperti tanah pada dasar gelas. Volume paku mengalami pengurangan sehingga paku terlihat lebih kecil terutama pada bagian yang terendam.
G. H
Karat terus bertambah banyak dan terus menebal membentuk lapisan tebal pada seluruh permukaan paku. Karat yang terbetuk berwarna sangat tua dan paku yang mengalami perkaratan menjadi sangat keropos bahkan beberapa bagian paku sudah hancur.

B. PEMBAHASAN
Korosi merupakan proses rusaknya benda-benda, terutama logam yang disebabkan oleh reaksi kimia atau elektrokimia logam tersebut dengan lingkungannya. Contoh korosi yang paling sering terjadi adalah perkaratan besi, yaitu suatu reaksi kimia kompleks yang di dalamnya besi bergabung dengan oksigen dan air membentuk besi oksida yang terhidrasi (Fe2O3.nH2) . Proses perkaratan besi merupakan proses elektrokimia, yaitu oksidasi besi oleh oksigen yang berasal dari udara dan reduksi oksigen.
Faktor-faktor yang mempengaruhi korosi :
1.      Oksigen
Oksigen berperan dalam proses korosi karena oksigen mengalami reduksi pada bagian besi yang bertindak sebagai katode. Berdasarkan hal ini, maka semakin banyak oksigen di suatu tenmpat maka akan semakin cepat korosi besi (logam) di dalamnya terjadi.
2.      Air dan kelembaban udara
Seperti halnya oksigen, air juga berperan dalam proses korosi. Semakin sering logam (besi) terkena air, maka akan semakin cepat logam tersebut mengalami korosi. Selain itu, keberadaan uap air di udara yang dinyatakan dengan kelembaban juga mempengaruhi korosi besi. Dalam hal ini, udara yang banyak mengandung uap air (udara yang lembab) akan mempercepat korosi.




3.      Zat elektrolit
Zat-zat elektrolit, terutama asam dan garam merupakan zat yang dapat mempercepat korosi logam. Sebagai contoh, hujan asam dapat memicu proses korosi pada beberapa peralatan yang terbuat dari logam, begitu juga dengan air laut yang mengandung garam dapat memicu terjadinya korosi pada badan kapal yang terbuat dari logam.
Untuk menyelidiki lebih lanjut tentang perkaratan besi tersebut dan juga menyelidiki faktor-faktor (oksigen, air dan keelektrolitan) yang mempengaruhinya serta membuktikan kebenaran teori yang kami dapat, kami melakukan penelitian selama 14 hari dengan membuat 8 kondisi berbeda pada masing masing gelas. Pengkondisian tersebut adalah sebagai berikut :
Label gelas
Pengkondisian
A
Paku diletakkan di dalam gelas terbuka (tanpa air)
B
Paku diletakkan di dalam gelas terbuka berisi air dan paku dibiarkan tenggelam sepenuhnya.
C
Paku diletakkan di dalam gelas terbuka berisi air, tetapi posisi paku diatur sedemikian rupa sehingga paku hanya terendam sebagian.
D
Paku diletakkan dalam gelas terbuka berisi larutan cuka (CH3COO-), dan paku dibiarkan dalam keadaan tenggelam
E
Paku diletakkan dalam gelas kosong yang tertutup
F
Paku diletakkan dalam gelas tertutup berisi air dan paku dibiarkan tenggelam.
G
Paku diletakkan dalam gelas tertutup berisi air, akan tetapi posisi paku diatur sedemikian rupa sehingga paku hanya terendam sebagian.
H
Paku diletakkan dalam gelas tertutup berisi larutan cuka (CH3COO-).
Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan mengenai korosi. Kami menemukan bahwa dalam proses korosi terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :
a)      Keberadaan oksigen (O2)
b)      Keberadaan H2O
c)      Keelektrolitan larutan
Pengaruh factor-faktor tersebut kami simpulkan dengan mengamati tingkat keparahan karat pada masing masing gelas yang telah dikondisikan berbeda tersebut.
Pada hari 1-11 perkaratan paling parah terjadi pada paku yang direndam dalam air di gelas yang terbuka. Hal ini jelas menunjukkan bahwa kombinasi antara air dan oksigen akan lebih memberikan efek yang lebih signifikan daripada keberadaan O2 saja atau H2O saja.
Dalam penelitian ini, kami menemukan sedikit ketidak sesuaian antara teori dan data yang kami peroleh.Ketidaksesuaian ini adalah tentang pengaruh asam terdapat korosi. Dalam teori disebutkan bahwa asam akan mempercepat korosi, akan tetapi pada pengamatan kami dari hari ke-1 hingga ke-11 menunjukkan bahwa paku yang direndam dalam air cuka (asam) justru tidak mengalami perkaratan sama sekali. Paku yang direndam dalam air cuka terlihat lebih bersih dari sebelum dilakukan perendaman dan terlihat semakin hitam dari hari ke hari.Hal ini jelas bertentangan dengan berbagai teori yang telah dikemukakandan hal itu sempat membuat kami berkesimpulan bahwa teori yang kami baca tentang pengaruh asam terhadap perkaratan tersebut adalah salah.

Akan tetapi pemikiran kami seketika berubah ketika volume cuka sudah mulai menyurut dan menyebabkan sebagian batang paku muncul kepermukaan (tidak lagi terendam). Paku yang muncul ke permukaan tersebut hanya dalam beberapa jam saja sudah mengalami perkaratan yang cukup parah. Perkaratan tersebut semakin bertambah parah dan bahkan membentuk suatu lapisan karat yang tebal untuk hari-hari selanjutnya hingga akhir hari penelitian (hari ke-14) dan jauh melebihi karat pada paku yang direndam di air biasa. Hal ini membuat kami mengetahui bahwa asam akan sangat mempercepat korosi apabila ia telah berinteraksi dengan O2, dan akan mencegah korosi apabila ia tidak berinteraksi dengan O2.












BAB V
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
1.      Korosi adalah proses suatu logam mengalami reaksi oksidasi di udara bebas. Korosi juga merupakan reaksi redoks antara logam dengan zat yang ada di sekitarnya dan menghasilkan senyawa yang tidak dikehendaki. Senyawa tersebut biasanya berupa oksida logam atau logam karbonat.
2.      Faktor yang menyebabkan terjadinya korosi :
ü  Oksigen
ü  Air
ü  Keektrolitan larutan
ü  Permukaan logam
ü  Sel elektrokimia
B.     SARAN
Adapun saran yang dapat kami berikan, yakni:
-     Dalam melakukan percobaan, sebaiknya kelompok tersebut memiliki kerjasama yang kompak. Jangan ada saling ketergantungan antara satu sama lain.
-     Sediakan alat dan bahan dengan lengkap.
-     Jangan lalai dengan kewajibannya untuk mengamati dan mencatat perubahan yang terjadi pada gelas setiap hari
-     Ikuti petunjuk yang berlaku.
- untuk mencegah dan mengatasi korosi sebaiknya melakukan pelapisan misalnya dengan cat untuk mencegah kontak dengan O2 & H2O, menggunakan perlindungan katode dengan menggunakan logam lain yang lebih reaktif sebagai pelindung logam/ sebagai korban, menyuplai listrik dari luar dan menggunakan perlindungan anode dengan menyuplai arus anodik dari luar dengan alat potensiostat.

Poskan Komentar